Keputusan itu terasa berat
Piaranoia dihatiku terus saja mengoceh
Membuatku terasa lebih berat untuk memilih.
Tapi itulah Hidup……
Semuanya butuh pilihan yang pasti.
Lalu pilihan mana yang harus ku pilih??
Untuk mengembalikan semua keadaan ini.
Dan mengobati hatiku yang sedang pesakitan ini.
---------------------------------------------
“Apakah harus pergi dari sini Hil, untuk melupakan semuanya?”,tanya Azzha membantu membereskan barang – barangku di asrama. Setelah ku pikir matang – matang, ku putuskan untuk kembali ke kampung halamanku, tepatnya di sebuah kampung kecil di kota Ngawi, yaitu Desa Karangjati. Disana aku berharap dapat memulai hidup baruku, mengubur semua mimpi buruk tentang aa’ Fahmi dan mengejar sisa cita – citaku tanpanya.
“Hilda……”, panggil Azzha mengejutkanku.
“Eh..iya Zha?”
“Hemh…..pasti melamun lagi!”,gumannya.
“Eh…afwan, Cuma lagi mikir tadi.,mengingat – ingat barang yang belum dibereskan. Tadi anti tanya apa ya?”, ucapku mencoba menyembunyikan galau ini dari Azzha.
“Ukhti…..anti yakin harus pergi dari sini? Hanya untuk melupakan semuanya? Meninggalkan sahabat, Ilmu dan pertemanan kita di asrama? Hanya untuk melupakan hal ini saja, hal kecil yang tidak begitu berguna?”,tanya Azzha seakan menodong fikiranku. Yah…memang ini hal tidak berguna, tapi aku tidak ingin hatiku sakit terus menerus.
“Ana nggak tau ukh….apakah ana juga yakin meninggalkan tempat yang indah seperti di asrama ini, tempat yang mengajarkan kepada ana tentang banyak hal, tempat yang memberi ana banyak sahabat . Tapi hati kecil ana berkata, mugkin ini yang terbaik. Terbaik untuk melanjutkan sisa cita – cita ana dan memperbaiki kesalahan ana terdahulu”, jelasku pada Azzha hambar.
Azzha tiba – tiba menggenggam tanganku, disudut matanya tampak lembab menahan air matanya.
“Anti yakin..ukhti?”tanyanya memastikanku.
“Insya Allah…ukhti! Terasa pahit memang, tapi semoga ini demi kebaikan kita”, jawabku tenang. Secara reflek Azzha memelukku erat.
“Ukhti…maafkan kesalahan ana ya…..Kali ini ana ikhlas melepas anti pergi jika memang sudah bulat keputusan anti untuk pergi. Cuma ana minta…..jangan pernah putuskan persahabatan ini. Terlalu indah ukhuwah kita yang sudah terjalin 3,5 tahun lamanya, jika harus putus karena anti jauh dari ana. Anti sahabat terbaik ana ukh…..jangan pernah lupakan itu”,ucapnya terisak.
Tak terasa air mataku juga meleleh, Ya Allah…tulus sekali hati Azzha mencintaiku sebagai sahabatnya. Sungguh aku juga tak bisa berpisah dengan sahabatku ini, tapi aku memang harus pergi untuk memperbaiki hatiku.
“Iya ukhti….maafin ana juga. Anti juga sahabat terbaik ana, sahabat yang selalu meningatkan ana kalau ana lagi futur. Insya Allah….Allah senantiasa menjaga persahabatan hambaNya yang di landasi cinta karena Allah. Anti tidak perlu cemaskan hal itu”, jawabku berusaha menentramkan hatinya.
Ya Allah…..walaupun jasad kami terpisah tempat, semoga ukhuwah ini senantiasa terjaga.
------------------------------------------
Bus AC Mira yang kukendarai melaju dengan mulus dan tenang. Tampak Candi Prambanan berada disisi kanan jalan berdiri dengan megahnya. Pertanda bahwa jalanan kota Jogjakarta telah usai untuk dilewati. Tak terasa sebentar lagi kota Jogjakarta akan kutinggalkan, bersama mimpi – mimpi buruk itu.
4 Jam menempuh perjalanan Jogja – Ngawi lumayan melelahkan. Tapi kelelahan itu tak terasa, begitu melihat didepan mataku adalah rumah mungil yang menjadi tempat aku tumbuh dari kecil hingga sebesar ini. Senyum wanita paruh baya di teras rumah itu, mengobati sedikit luka dihatiku.
“Bunda……”,gumanku, menyalami tangan tuanya.
“Akhirnya sampai juga nduk…Ayo..masuk kedalam, kamu pasti lelah sekali”, ucap bunda mengajakku masuk. Tanpa aba – aba lagi, aku langsung menuju kamarku.
Ku hempaskan tubuhku yang rapuh ini diatas ranjang empuk ini. Berlahan nafas dari rongga hidungku ku atur secara pelan, agar nafasku kembali berhembus teratur.
Kamar ini tak ada yang berubah dari kamar 3,5 tahun yang lalu. Hanya saja terlihat lebih kotor karena aku sangat jarang menyinggahinya.
“Sudah mantab nduk…untuk melanjutkan hiupmu disini?” tanya Bunda mengagetkanku. Aku beranjak bangun, dan duduk mendekati bunda.
“Insya Allah bun…..Doakan Hilda, semoga istiqomah dengan keputusan ini”, jawabku tegas.
“Bunda sudah dengar semuanya dari Ustadz Rahmat. Jadi, kalo itu memang keputusanmu untuk memperbaiki diri dengan kesalahan yang lalu. Apa boleh buat, ayah dan bunda hanya bisa mendukungnya. Asal dengan keputusanmu itu kamu bertanggung jawab dengan konsekuensi yang ada”. Mata teduh itu menatapku dengan penuh sayang.
“Masalah sekolah Hilda bun…..?”tanyaku agak ragu.
“Seperti yang bunda katakana tadi. Jika kembali disini kamu tau kan Nak? Konsekuensi apa yang kamu dapat?”, tanya bunda meminta tanggung jawabku.
Aku menghelan nafas berat.
“Iya bun..Hilda tau, disini Hilda akan sekolah di sekolah biasa, sebuah Madrasah Aliyah Negeri tenpat ayah mengajar. Hilda tidak boleh masuk SMA Negeri Favorit disini. Karena sekolah Favorit Hilda yang di Jogja sudah Hilda lepas. Hal itu dikarenakan disini Hilda tidak tinggal diasrama, kalau disekolahkan di SMA takutnya Hilda terpengaruh sama anak –anak umum,sedangkan di Jogja Hilda bisa sekolah di SMA karena ada asramanya. ” jawabku setengah manyun.
“Tuh…pinter putri bunda. Jadi itu konsekuensinya sayang…..Semoga kamu bertanggung jawab dengan keputusan itu”, ucap bunda seraya mengelus kepalaku.
“Hm…..iya deh Bunda!”
----------------------------------------
“Hari yang menyebalkan……..”,ucapku setiba dirumah. Hari ini, hari pertamaku sekolah di Madrasah Aliyah Negeri tempat ayah mengajar. MAN Nurul Insan, nama sekolah itu.
“Ada apa sayang….Pulang sekolah kok langsung cemberut? Gimana sekolahnya?”, tanya bunda menyambut kepulanganku bersama ayah.
“Pemikiran yang so bad….bun! Sulit banget ngajak mereka maju….. Anak kampung semuanya”, gerutuku sebal.
“Ais….yang penting ayah kan nggak kampungan sebagai guru”, protes ayah menggodaku, terdengar suara bass ayah dari kamar. Aku semakin menekuk mukaku, ku rebahkan tubuhku di sofa ruang tamu. Rasanya malas juga berganti baju.
“Eh ayah…biarkan Hilda cerita dulu dong…. Bunda pengen denger ni, kayaknya seru ceritanya”, goda bunda sambil mengambil posisi duduk disebelahku. Tak lama kemudian ayah menyusul dengan baju kaos yang baru saja dikenakannya.
“Cerita dong nak! Gimana sekolahnya”, rajuk bunda.
“Serba menyebalkan… anak cowok sana berani banget sih genit ma cewek. Pakai ngajak acara salaman segala. Diasrama aja anak cowok kita nggak segitunya kali…. Udah gitu mereka bisik – bisik gini, wah asyik….ada anak baru dari sekolah elit. Bisa kita jadikan master buat foto copy jawaban kalo ada tugas”, ceritaku uring – uringan. Bunda mendengarkan dengan santai.
“Lalu apalagi?”, Tanya bunda kemudian.
“Terus nggak tau…. Eh bun! Tapi aku tadi dapet temen baru, namanya Erena. Ku akui, penampilan mereka agak nggak wah gitu…tapi kayaknya anaknya baik”, ceritaku lagi, kali ini dengan intonasi yang agak mereda.
“Hm…bunda rasa, putri bunda tau apa yang harus dia lakukan. Karena putri bunda yang cantik ini di kenal seorang yang cerdas”, ucap bunda genit, membuatku tak faham apa maksud perkataan beliau tadi.
“Maksud bunda??”
“Ya…bunda rasa kamu pasti tau”, ucap beliau singkat, membuatku semakin tak mengerti.
“Dari dulu kan putri ayah yang sulung terkenal cerdas kalau menjadi Wonder Reformasi”, ucapa ayah tiba – tiba.
Aku berfikir sejenak, baru kufahami maksud bunda tadi.
“Owh…aku tau maksud bunda. Hm…., jadi aku harus melakukan reformasi pada mereka secara bertahap. Supaya mereka bisa berfikir lebih maju?”,tebakku.
“Betul sekali sayang…Gimana? Are You Ready??”,ucap bunda penuh semangat.
Aku tersenyum geli dan mengangguk dengan pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar