Perginya sosok nyata itu…
Tergantikan oleh bayang semu
sosok tak ku kenal di alenia bawah sadarku.
Membuat otakku semakin
merasakan nanarjiwa yang gila.
Akankah ada
Cinta lain yang dapat merengkuh
sukma duka cintaku.
Akankah dapat
hati lain yang mengikat palung terdalam
cinta dalam hatiku.
Gelap.....semuanya tak jelas.
Haram...katanya sebuah cinta
yang semu tanpa ikatan kepastian.
Teka teki......
yang tak dapat diterka dan ku terkam.
Siapa...?
Seperti apa..?
Bagaimana..?
Dia....Dia....
Sosok dari lahful mahfudz...yang dijanjikan Rabbku untukku.
Masih terhijab tabir
rahasia perjodohan.
Jogja, 07 Mei 2006.
----------------------
April, 2006 …….
Aku, aku tak percaya. Mati rasa dalam hatiku menerima kenyataan ini. Gundukan tanah liat berwarna merah didepanku adalah makam basah milik serpihan hatiku yang menemani hari – hariku di asrama selama 2 tahun ini.Raezada Adam Fahmi, laki – laki bertubuh kokoh, berwajah teduh, dengan tatapan mata elangnya yang selalu membuatku merasa aman disetiap perjalanan pulang sekolahku menuju asrama.
Kini tak ada lagi sosok itu….. Aku hanya mematung tanpa daya, ketika tadi malam menerima telfon dari Faiz, adek aa’ Fahmi. Masih ku ingat kabar yang mengikis pertahanan karang emosi cintaku.
“Teteh Hilda…aa’ tadi sore jatuh dari tebing, saat hendak menaklukan hutan belantara Merapi bersama – sama anak PA SMA Bina Insani. Sekarang aa’ sedang kritis di RSUP SARDJITO. Teteh…kalau bisa tolong datang kesini ya….kabur dari asrama nggak papa deh! Soalnya aa’ nyebut nama teteh terus”,jelas Faiz menumbuhkan sejuta fobia prasangka rasa kehilangan difikiranku.
“Adek..teteh harus gimana?”,tanyaku panik.
“Udah…teteh kabur dari asrama aja…tar tak jemput di Ring Road Banyuraden. Kita langsung menuju RSUP tar teh !, di RSUP dah ada Kak Hanif ma Kak Rafsya.”
“Iya..teteh ni mau berangkat, tunggu disana ya…”, jawabku singkat.
--------------------------------------------------
Kamar Cendana III…….
Sosok kokoh dan tegap itu kini dibalut kain perban berwarna putih dihiasi noda merah darah bercampur dengan betadine. Matanya sedikit terbuka tetapi jiwanya masih setengah tak sadarkan diri. Tanggul pertahanan air mataku jebol, berlahan kristal bening cair itu mengalir dari kelopak mataku dan membasahi pipiku.
“Aa’….aa’….aa’ Fahmi….bangun aa’!!”, isakku pilu. Rasanya nafasku berat untuk menghirup udara yang ringan di sekitar kamar itu. Tubuhnya masih saja diam tak bergeming. Hanya nafas ringan yang keluar dari rongga hidungnya.
“Aa’ Fahmi…..bangun!! jangan tinggalin Hilda. Hilda belum siap aa’. Masih banyak mimpi dan cita – cita yang belum kita rajut.”ucapku penuh emosi seraya mengguncang – guncangkan tubuhnya. Responnya masih sama, hanya diam dan bisu. Aku terkulai lemah duduk dikursi dekat ranjangnya. Sekilas kulihat Kak hanif sedang berbicara serius dengan seorang dokter diluar. Ku tatap tubuh lemah dihadapanku, ku kuatkan hatiku untuk tidak cengeng. Tangan dingin aa’ Fahmi ku genggam lembut.
“Aa’…bangun ya….. Aa’ ingat janji aa’ tidak? Janji kalau 6 tahun lagi kita akan menikah. Lalu kita menantang masa depan bersama. Aa’ ingat target aa’ tidak kalau setelah kita menikah, kita punya anak dan anak kita berusia dua tahun. Aa’ mau meneruskan S2 aa’ bersama – sama dengan Hilda?”, ku bisikkan lembut di telinganya. Ku coba bercerita sambil tersenyum getir. Allah…ya Rabb, ya Mu’id! Bangunkan dia.
Tangan dingin dalam genggamanku itu sedikit bergerak. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka.
“Adek Hilda…….”, ucapnya lirih. Masih dengan wajah pucatnya.
“Aa’ Fahmi…….iya,ini Hilda”, jawabku sambil mengulas senyum bahagiaku.
“Mana Hanif dan Rafsa?”,Tanya aa’ Fahmi pelan.
“Masih diluar aa’, mau Hilda panggilkan?”
“Nggak..usah dek…. Cuma tanya aja kok!”
Aku kembali ke dekat ranjangnya. Kucermati aa’ Fahmi sedang menatapku lembut.
“Dek Hilda…..aa’ boleh minta sesuatu ?”,tanyanya lirih dengan tatapan mata elang yang sayu.
“Apa aa’?”
“Kalo aa’ dah nggak ada, aa’ mau dek Hilda ikut ngaji ya….Ikut halaqoh di rumahnya Ustadzah Faza…..Biar jadi wanita dan istri yang shalihah”
Aku terkejut mendengar permintaannya.
“Aa’ kok bilang gitu sih…..”
Aa’ Fahmi hanya menyahutnya dengan senyuman tipis di bibir pucatnya. Nafasnya terdengar berat.
Suasana terasa hening, aa’ Fahmi diam dengan bibir terkantup rapat. Matanya masih terbuka memandangiku, tapi ku lihat rasa kesakitan terpancar dari raut wajahnya.
“Tit…tit…..tit….tiiiiiit…..tiiiitt…tiiit….tiiitt”, suara berdetak itu semakin cepat. Ku seka peluh didahi aa’ Fahmi. Terasa dingin, Ya Allah……jangan – jangan …………………Aku berlari keluar ruangan.
“Dokter….dokter…..dokter…” , teriaku panik, mencari siapa saja dokter yang ada di sekitar ruangan aa’ Fahmi. Ku temukan seorang dokter wanita berada di lobi bangsal Cendana.
“Dokter…dokter….. tolong …… kakak saya”,pintaku terisak,
“Ada apa dek………………….”
“Aa’ fahmi…….”, ucapku linglung.
--------------------------------------------------
“Innalillahi……wa inna Ilaihi Rajii’uun…….”, ucap kak Hanif mengelus wajah aa’ Fahmi yang memucat dingin dan menjadi kaku.
Aku terdiam, lama sekali. Seakan tak percaya kenyataan ini, cinta pertamaku meninggalkan cintaku dengan keadaan seperih ini.
Tak ada senyum sepulang sekolah lagi, tak akan ada panggilan dedek setiap piket mengambil makan di dapur dekat asrama ikhwan. Flashback kenangan manis bersama aa’ Fahmi, tiba – tiba menari di sel melin otakku. Tanggul pertahananku jebol, air mata itu mengalir secara perlahan, semakin lama, semakin deras.
“Hil, ada surat dari aa’ Fahmi”, ucap kak Hanif menyodorkan amplop berwarna biru muda itu.
“Surat apa ini?”tanyaku terisak.
“Surat yang di tulis akhi Fahmi semalam sebelum dia berangkat ke Merapi. Dia nitip surat ini ke ane buat dikasihkan ke anti. Katanya jaga – jaga kalau ntar ada hal yang tidak terduga. Dan ternyata firasat dia benar, kematian dirinya sendiri yang dia maksud hal tak terduga itu.”jelas kak Hanif datar.
-----------------------------------------------------
Setiba di asrama, semua menyambutku dengan sambutan turut berduka. Ku lihat sekilas Ustadzah Fikra tidak ada respon. Semoga saja tidak ada Iqob untuk pelanggaran tergilaku hari ini, selama 3,5 tahun hidup diasrama.
Sesampai di kamar teman – teman langsung berhambur memelukku.
“Sabar ya Hil…….Semoga Allah memberi ganti yang terbaik. Ikhwan yang lebih shaleh dari Kak Fahmi”, hibur Azzha memelukku. Lalu di ikuti Azzul, Fatmi, Leni, dan Ida.
Malam semakin larut, semua teman kamarku sudah larut dalam bunga tidur mereka. Mataku yang bengkak belum bisa terpejam, rasanya flashback saat – saat bersama aa’ Fahmi sulit sekali dilupakan. Fikiranku terasa not responding dengan keadaanku saat ini. Tiba – tiba ku ingat surat aa’ Fahmi yang diberikan kak Hanif padaku tadi sore.
Ku langkahkan kakiku menuju balkon asrama, disana bisa kupandangi bintang dilangit sambil membaca surat terakhir dari aa’ fahmi.
Sesampai di balkon, ku buka amplop biru muda ditanganku.
Sleman, 27 April 2006
Buat Dedek Hilda yang di cintai Allah
dan aa’ Fahmi.
Assalamualaikum………….adek cantik!
Afwan ya…….aa’ kasih suratnya nggak langsung ke adek Hilda. Trus aa’ nggak pamit ke adek Hilda kalau aa’ mau ikut anak PA ke lereng Merapi. Itu karena aa’ sayang dan cinta sama adek Hilda karena Allah. Aa’ tau sifat kamu kalau tau aa’ ikut acara begituan. Adek Hilda pasti kawatir, cemas, dan hoby ngelihat jam dinding ma kalender. Hehehehehe (peace!). Trus akhirnya adek lupa makan, belajar dan shalat nggak konsen, tilawahnya cepet – cepet, dan matsuratnya males deh…….(Dirubah ya sayang…sifat itu, aa’ nggak begitu suka, apalagi Allah tuhan kita). Beruntung ustadzah Fikra nggak tau itu, kalau tau bisa – bisa cintaku di Iqob pake jilbab kampanyenya Partai Golkar dong….hehehehehehehe.
Adek Hilda sayang………
Entah nggak tau kenapa, aa’ mau kita mengadakan perubahan yang lebih baik untuk diri kita, sepulang aa’ dari Merapi 4 hari lagi. Aa’ usul, gimana kalo kita nggak pacaran lagi?? Kita sendiri dulu dek? Eits…..tapi bukan berarti aa’ nggak cinta sama adek Hilda lagi lho…. Tapi karena aa’ cinta banget sama adek Hilda karena Allah. Dan aa’ merasa kalo Allah mulai marah sama kita karena kita pacaran. Kayaknya sih …. Allah maunya kita sempurnakan Ilmu dan Ibadah kita sendiri dulu, baru Ilmu dan Ibadah kita bersama – sama dalam sebuah pernikahan. Gimana adek? Maukan? Aa’ janji deh…kalau kita jodoh secepatnya aa’ bakal khitbah adek….kalo perlu lulus SMA langsung. (hehe…. Tapi aa’ belum kerja, masih kuliah).
Adek cintaku yang dititipkan Allah padaku …………..
Maaf ya dengan keputusan aa’ ini. Aa’ nggak ada maksud buat meninggalkan dek Hilda. Aa’ takut Allah marah sama kita, dan kita kembali ketempat Nya dalam keadaan tidak diridhoi Allah. Berat juga bilang gini tau sayang…..tapi aa’ harus berjuang buat mengalahkan nafsu cinta kita demi kesucian cinta kita. Janji jangan marah dan manyun baca surat ini ya.. .
Adek…….sebelum aa’ melepas adek Hilda, mau nggak adek menuruti permintaan aa’? permintaan aa’ Fahmi ke dek Hilda buat yang terakhir kalinya. Adek cinta…aa’ minta adek ikut liqo’ (halaqoh) di tempatnya ustadzah Faza bisa tidak? Karena aa’ udah 1 bulan ini ikut liqo’ di tempat Ustadz Jakfar. Aa’ berharap adek Hilda bisa jadi akhwat kaffah, jadi istri shalihah, yang menyeimbangkan ilmu tarbiyah, ilmu tekhnologi dan ilmu keakhwatan. Mau yah…… cantik deh kalau nurutin maunya aa’..hehehehehe
Ya Allah……nggak terasa banyak banget aa’ nulis suratnya. Pantesan ini tangan mulai pegel,hehehehe. Adek baca surat ini mungkin aa’ udah pergi ke merapi. Afwan ya..nggak pamit. Jangan nakal di asrama selama aa’ tinggal.
Its’ always…cinta FAFA is the best.
Wassalamualaikum……..
Aa’ cakep
Raezada Adam Fahmi
Air mataku meleleh dengan derasnya, tapi tak bisa ku hindari senyum karena keunikan kata – kata aa’ Fahmi, yang mungkin seumur hidup aku bersamanya aku tidak akan dibentaknya.
“Aa’…..demi cinta kita karena Allah…aku janji aa’. Akan ku lakukan apa yang selama ini menjadi harapanmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar