Mimpi itu membuatku gila
Sosok pemuda tak ku kenal tapi dekat dihatiku
Siapakah dia?
Seperti apakah dia?
Teka – teki yang membuatku roboh
Dan membobol tanggul pertahanku
Di tempat berpijak ini.
Mungkinkah aku harus pergi?
Untuk membuang semuanya.
---------------------------
“Tiiiidddaaaakk…..!!!”, sebuah cahaya mengeluarkanku dari ruangan gelap tadi. Kini berganti ruangan kamarku diasrama. Yang ku lihat dengan mata mengerjap – ngerjap. Nafasku terengah – engah, keringat membanjiri baju piyamaku, mimpi buruk yang ketujuh kalinya. Kenapa sulit sekali rasanya melepas aa’ Fahmi dalam hidupku?. Kenapa harus terbawa sampai mimpi?
Jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 WIB. Dengan langkah berat kucoba mengayunkan kaki menuju kamar mandi. Dan “Ceesss”, basuhan air wudhu merangsang sel – sel syarafku untuk bangun dari kemelut mimpi buruk tadi. Sejenak setelah itu kubenamkan jiwa dan ragaku kepada Sang Pemilik Cinta. Diatas sajadah CintaNya, aku menangis dan meluapkan segala emosi spiritualku padaNya.
“Ya Rabb………….aku tau aku terkadang jauh dari Mu. Aku tahu, aku terkadang sering kufur atas nikmat Mu. Aku tahu aku selalu menduakan cintaMu. Tapi kali ini aku mohon ya Rabb......jangan kau hukum hamba Mu ini dengan mimpi buruk seperti ini. Mimpi yang selalu menghadirkan laki – laki yang pernah aku cintai, yang ku cintai dengan cara yang salah.”
“Ya Rabb... Ya Muqtadir… aku tahu terkadang aku sombong dalam hidupku, terlalu angkuh untuk menggantungkan segala gundah masalahku di atas sajadah cinta Mu. Kali ini dengan segenap jiwa dan ragaku aku hadapkan kehadirat MU. Karena aku merasa tanggul keangkuhanku kini telah hancur. Hancur karena kekuasaan Mu”
“Ya Allah…Ya Khabir…jika memang hidupku masih panjang tanpa adanya dia yang telah pergi menghadap Singgasana Mu. Dan jika dia bukan jodoh terbaik untukku. Maka tunjukkanlah jodoh terbaik untukku. Kumuhon….jauhkanlah aku dari mimpi hina ini. Karena aku sadari aku sekarang menjadi sosok yang rapuh, rapuh karena mencintai makhluk Mu dengan cara yang salah”
“Aku hamba Mu yang kerdil ini, memohon belas kasih Mu. Hanya untuk memohon agar dikabulkan doaku ini Ya Allah…..Bahkan aku rela menjual seluruh harga diriku hanya untuk mendapatkan keindahan cinta dari Mu”
Malam yang lengang itu hanya menyisakan sisa air mata di atas sajadah cokelatku. Ku perpanjang sujudku untuk menundukkan seluruh jiwaku pada Nya. Aku sekarang benar – benar merasa. Merasa rapuh karena salah dalam mengartikan cinta, cinta yang akan terasa indah jika aku benar – benar mengikuti aturan dari Nya.
Gelap itu mencekam alam bawah sadarku lagi. Lebih gelap dari ruangan tadi. Batinku memberontak brutal untuk tidak semakin menyusuri lorong gelap itu. Tapi seakan medan magnet dari ujung lorong itu menyeret paksa langkah kakiku untuk menghampirinya. Aku tak bisa mengelak, seberkas sinar putih menampar wajahku dan silau….. Lorong gelap tadi berubah menjadi ruang tamu di rumah eyang putri. Di sofa ruang tamu itu tampak pak poh Hasyim, pak poh Taufik, dan bu poh Khadijah sedang berbincang – bincang serius. Eh..tapi siapa pemuda yang duduk di samping pak poh Hasyim itu? Aku tak pernah mengenalnya, wajahnya pun samar – samara kulihat.
“Nduk….sudah datang kamu rupanya”, sapa pak poh Hasyim membuatku terkejut. Aku hanya menjawab sapaan tadi dengan senyuman manis. Otakku masih belum bisa berkompromi dengan sapaan pak poh Hasyim, sel melinku masih memproses untuk mencermati pemuda tak jelas itu.
“Tak kenalkan ma bocah bagus ini nduk. Ya….pak poh ngertos jane,nek sampean mesti masang standart calon suami yang terlalu tinggi kesempurnaannya. Tapi ya cobalah kenalan sama pemuda itu. Orangnya memang banyak kekurangan, tapi pak poh yakin dari kekurangan dia, kamu bisa jadi istri shalihah dan bisa mensyukuri nikmat Allah. Dibalik kekurangannya, ada banyak kelebihan yang dia punya. Percayalah padanya, karena didampinginya kamu bisa mengambil banyak pelajaran di Universitas Kehidupan”. jelas pak poh Hasyim sambil mengelus kepalaku yang dibalut jilbab. Di depan beliau, kulihat pak poh Taufik dan bu poh Khadijah mengangguk – angguk membenarkan ucapan pak poh Hasyim.
“Siapa pemuda itu pak poh? Kenapa wajahnya samar – samar tak dapat kulihat dengan jelas?”,tanyaku penasaran. Kucermati pemuda itu, tubuhnya kurus dan pendek, tapi masih tetap saja lebih pendek dariku. Tingginya sekitar 10 cm lebih tinggi dari pada tinggiku.
“Namanya Haekal Mufasyir, dia lebih tua 3 tahun darimu”, jawab pak poh singkat.
Aku terheran mendengar nama itu, nama yang belum pernah ku dengar. Tapi kenapa di jodohkan denganku?. Dalam hatiku terpendam segunung pertanyaan. Tapi belum sempat terjawab semua pertanyaanku, aku dikejutkan oleh ruang tamu yang dalam sekejap mata berubah menjadi dapur. Dapur yang belum pernah kusinggahi sebelumnya. Di dapur itu terdapat pawon, dan disebelahnya ada seorang nenek duduk.
“Mriki nduk….mriki”, panggil nenek itu membuatku semakin bingung
Aku menghampiri nenek tua itu dan duduk bersimpuh disampingnya. Tiba – tiba nenek tua itu mengambil bara panas dari pawon dengan tangan kanannya dan mengambil sebuah cincin emas dari saku kebaya dengan tangan kirinya.
“Tadahno tanganmu nduk…..tak paringi wowo panas iki kaleh ali – ali jenar iki”, ucap nenek itu sambil menaruh bara itu di tangan kiriku dan cincin itu di tangan kananku. Aku merasa heran karena tak ada rasa panas sama sekali bara itu di tangan kiriku.
“Kagem nopo mbah?”tanyaku bingung.
“Sok kapan – kaban ben di pundhut Haekal, sakniki gowoen dhisik nduk”, jawab nenek itu sambil tersenyum.
Semakin bingung aku mencerna semua kejadian ini. Kepalaku terasa pusing, karena sel melinku mungkin terlalu keras memeras tenaga untuk berfikir menganalisis maksud semua kejadian ini. Suasana tiba – tiba gelap dalam pandanganku. “Aaarrggghhhh……”
“Hil….bangun Hilda!”, suara Azzha membuka alam sadarku. Mataku terkrejap – krejap cepat. Peluh terasa mengalir dari dahiku, kulihat diriku masih terbalut mukena. “Ya Allah..ternyata semua ini hanya mimpi”,batinku.
------------------------------------------------
Pagi itu ditengah perjalanan menuju sekolah, kuceritakan mimpi tadi malam pada Azzha.
“Ha..ha…ha…ha…… JDS kali Hil!”, tawanya pecah mendengar ceritaku. Aku dibuat gemas karena tertawanya yang menganggap mimpi itu suatu hal yang lucu.
“Apa itu JDS Zha?”,tanyaku sewot.
“Jodoh Dari Surga…..ha..ha..ha…. Tapi sayangnya orangnya nggak jelas. Apa dia ganteng, pinter, shaleh dan tanggung jawab? Atau apa dia jelek, bodoh, dan……..”
“Azzha….. “, potongku cepat. “Tega banget sih anti doain ana dapet jodoh seburuk itu. Kalo jodoh dari surga nggak mungkin gitu lah…..”,lanjutku uring – uringan. Tapi Azzha malah merespon dengan tawa yang semakin terbahak – bahak.
“Ha…ha…ha…ha…kali aja disurga stoknya ikhwan ganteng habis, jadi anti nggak kebagian deh”.
Aku dibuat semakin gemas dengan sikapnya. Ku ayunka tinju di lengan kanannya, “Buuk”. Dia pun meringis kesakitan.
“Doa aja Hil! Biar Allah nggak kasih anti jodoh dari surga kayak Ucok Baba, ha….ha…ha…”, ejek Azzha lagi, kali ini dia langsung berlari menjauhiku.
“Azzha !!!” teriakku sambil berlari mengejarnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar