Rabu, 06 Juli 2011

BAYANGAN

Tak pernah kusesali keputusanku. Keputusan untuk menyelami kehidupan peri – peri kecil yang gersang atas kasih sayang. Walau ayah, satu – satunya orang tua yang kumiliki saat ini, menolak mentah – mentah keputusanku itu. Ayah menyuruhku untuk mengikuti jejak kedua kakakku sebagai seorang wanita karier dan pegawai kantoran. Namun……. Aku hanyalah wanita yang mempunyai jiwa seorang ibu. Hatiku bak teriris kala melihat polah peri – peri kecil itu. Canda dan tawa yang kadang kurasa menyimpan perasaan luka karena haus akan kasih sayang.

-----------------------

“Ayah sangat kecewa dengan keputusanmu Rana!” ungkap ayah saat mengetahui keputusanku untuk mengajar anak – anak Panti Asuhan di daerah pedalaman kota Ponorogo.
“ Ayah….aku hanya ingin diriku, ilmuku, dan kasih sayangku dapat berguna bagi keseharian mereka. Mereka sangat merindukan sosok seorang ibu, yang mungkin dari dia masih berwujud bayi berwarna merah, dia belum sempat melihat sosok ibunya.”jawabku memberi argument terhadap sanggahan ayah.
“ Ayah tidak meridhoi niatmu itu!, kenapa kamu tidak mengikuti jejak kedua kakakmu itu. Seperti Kak Rafa yang menjadi wanita karir yang hebat di bidang desain grafis dan Kak Sarah yang menjadi pegawai kantor efertaizing. Tidak seperti kamu Rana!menjadi seorang guru bantu di subuah Panti Asuhan yang sudah pasti berada di tempat yang kumuh. Belum lagi perbandingan gaji kamu dengan kedua kakakmu,sangat jauh bagaikan bumi dan langit.”, lanjut ayah dengan sebuah cercaan.
Aku hanya tertunduk dan terdiam, tak menjawab banyak kata cercaan dari ayah. Sudah cukup aku membantah perkataannya,aku tak mau menjadi anak yang terlalu durhaka.
Tak lama kemudian,ayah berhenti dari cercaannya. Dia terdiam dan bernafas terengah – engah untuk mengatur emosinya kembali.
“Maafkan perkataan ayah tadi Rana……. Ayah hanya terlalu sayang padamu Rana…… Ayah ingin menjagamu…….. Ayah …..ta….”
“Ayah takut nasib Rana akan seperti Bunda kan? Meninggal Karena tertabrak mobil demi menyelamatkan jiwa salah seorang anak panti asuhan yang tak sengaja saat itu menyebrang jalan”, potongku cepat.
“Kamu benar nak….. Ayah benar – benar takut nasibmu seperti bundamu. Ayah sangat trauma sekali dengan kejadian itu”
“Ayah…apa yang dialami bunda 12 tahun yang lalu adalah takdir dari Sang Kuasa. Tidak sepatutnya ayah bersikap seperti itu”,jawabku mencoba memberi pengertian.
“Rana…… sejujurnya apa yang ada dalam kepribadianmu itu, membuat ayah sangat menyayangimu melebihi kedua kakakmu. Pribadi bundamu yang benar – benar dititiskan dalam dirimu. Membuat ayah seakan melihat bayangan bundamu dalam keseharian ayah nak….”

------------------

Aku merasa sangat keras kepala dengan keputusanku. Walaupun aku tahu, saat kepergianku ayah tak menampakkan wajahnya. Beliau lebih memilih untuk mengurung diri dalam kamar. Karena kepergianku menentang harapannya.
Kini,aku berada dikamar yang sempit. Kamar bagi guru yang tinggal di komplek Panti Asuhan Al Falah daerah Ponorogo. Berbeda dengan kamarku saat berada di rumah dulu, full Ac,lengkap dengan paket TV dan paket computer. Saat ini dihadapanku hanya ada meja belajar yang hampir rapuh, satu almari tanggung yang berdebu, dan sebuah ranjang yang beralaskan kasur kapuk. Mungkin inilah ujian kesabaran yang di berikan Allah padaku.
Hari – hari di Panti Asuhanpun kulewati dengan penuh keikhlasan. Semakin lama aku berada disana, semakin aku pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padaku dan aku semakin banyak mendapat pengalaman hidup.
Ditemani canda,tawa,dan polah keseharian anak panti, membuat jiwa keibuanku semakin terasa. Saat menyelesaikan permasalah mereka, saat menjadi teman curhat bagi mereka, dan menjadi tempat bermanja buat mereka. Sangat kunikmati sekali keadaan itu. Sampai aku hampir melupakan keadaan rumahku, mengetahui kabar ayahku, dan kabar kedua kakakku. Selain itu aku juga maklum, karena kepergianku yang tidak mendapat ridho. Wajar saja jika ayah tak pernah menanyakan keadaanku.

--------------------------

“ Bu….bu Rana……!”, teriak salah satu muridku dari kejauhan, dia ingin menghampiriku.
“Ada apa To………??”, tanyaku menyambut kedatangan Yoto, muridku.
“Itu bu….ada om – om bawa mobil bagus mencari Ibu. Orangnya dah tua bu..! Tapi kayaknya kaya banget bu!” jelasnya.
“ Dimana orangnya sekarang?” tanyaku.
“Di teras asrama bu!”
Aku bergegas menuju teras asrama. Kulewati lorong kamar murid – muridku . dalam hatiku bertanya siapa tamu yang di maksud Yoto. Tamu donaturkah?, Orang yang ingin mengadopsi anakkah? Atau siapa?.
Teras asrama semakin dekat dan…………
“Ayah………………”, gumanku reflek mengetahui siapa laki – laki tua yang datang itu. Hatiku bergetar menyambut orang yang paling aku hormati dan tanpa sengaja aku pernah menyakitinya.
“ Rana…….maafkan ayah! Ayah akui ayah salah. Ayah terlalu menyamakan kamu dengan bundamu. Sekarang ayah merasa kehilangan bayangan bundamu,saat kamu tiada lagi dirumah ayah merasa bayangan bundamu hilang”.
“Maafkan Rana juga yah………”
“Kembalilah kerumah nak…….. Ayah rindu bayangan itu….”,pinta beliau.


Jogjakarta, 05 Mei 2007
Saat rindu memuncak pada sang
Ibunda tercinta di Madiun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar