Minggu, 10 Mei 2009

cerbung

KRONOLOGI SENANDUNG CINTA (part 1)

Created by : Alfaith Ultacandra




“Apa aku salah , jika suatu saat nanti aku berniat menikah,aku meminta agar ikhwan yang di suguhkan untuk menjadi imamku itu bisa memahami keresahan hatiku,sehingga dia tau bahwa yang harus dilakukannya adalah mencuri hatiku agar dapat mencintainya tanpa dapat berpaling ke hati yang lain.”

Awal agustus 2004, saat mentari tersenyum dengan cerahnya.......

“Saya ingin anti sebagai siswa yang pertama kali memperkenalkan diri !”

Dengungan kalimat perintah itu masih terngiang di telingaku. Perintah 3 hari yang lalu dari ust.Rofiq,ustadz baru yang mengajar les bahasa Inggris kami untuk bekal mempersiapkan UN SMA.

Awal dia memasuki kelas adalah pertama kali aku melihat ikhwan seperti dia. Ikhwan yang kalem,dewasa,dan misterius. Dah entah kenapa tiba – tiba ada desiran lain setiap kali aku di dekatnya,sepaerti perasaan nyaman dan tenang.

“Ente jatuh hati kali Sa!,tapi hal itu tanpa ente sadari....atau gengsi untuk mengakuinya!”. Begitulah tanggapan sahabatku Hanifa saat aku mengutarakan desiran perasaan itu. Tapi tak tahulah .... yang jelas saat ini aku merasa biasa saja.




Akhir juni 2005, saat kebahagiaan itu datang.................

Buah dari perjuanganku akhirnya memuaskan,aku lulus sebagai peringkat kedua di kelas setelah Hanifa sahabatku.

“Barakallah....ukhti Lisa!!anti mau nerusin tolabul ‘ilmi di Universitas mana?” tanya Hanifa padaku kalem.

“Insya Allah di UNPAD ukh! Ngambil sastra Arab. Eh...anti barakallah aidzon wa mabruroh ya ukh!”balasku ceria

“Syukron.....”jawab Hanifa.

Di tengah percakapan yang mengharu biru itu,datang sosok tegak yang akhir – akhir tanpa kusadari hadir dalam dunia mayaku juga. Dia menghampiriku dan Hanifa.

“Ukhti Lisa ! congratulation for your succes........anti dapat nilai UN Bahasa Inggris tertinggi di kelas”,ucapnya ramah seperti biasanya.

“Alhamdulillah ustadz..........”jawabku singkat.

Mungkin saat itulah terakhir aku berbicara dengannya. Rasa kehilangan seakan menyeruak menyelinap masuk ke rongga – rongga hatiku. Tapi aku selalu menempis perasaan itu dan berusaha untuk bersikap biasa. Karna aku yakin bahwa apa yang di gariskan Rabbku untuk hidupku adalah yang paling terbaik dari semuanya.




Februari 2008, kelelahan itu menderaku......................

Awal memasuki semester 6 kuliahku, aku semakin sibuk dengan tugas dari dosen yang semakin bertambah setiap minggunya. Target 24 SKS yang ku ambil persemester benar – benar membuat aku berkejar – kejaran dengan sang waktu. Belum lagi rutinitas Liqo’ satu kali seminggu,yang selalu di tuntut oleh ruhiyahku.

Di sela kelonggaran kegiatanku yang padat,aku merasa rasa nyeri di hatiku. Bukan nyeri dalam artian fisik,tapi nyeri dalam artian perasaan. Seperti perasaan haru birunya sebuah rindu untuk seseorang yang aku tak tahu siapa itu. Tapi entahlah ku anggap saja perasaan itu angin lalu saja.

Bukan ku berusaha untuk munafiq pada hatiku sendiri,tapi aku tak ingin perasaan itu mengganggu popularitasku di KAMMI,BEM,dan LDK di kampusku.Aku ingin berusaha menjadi akhwat yang bisa menjaga hati dan pandangan.




September 2008.., Rabbi......aku lelah.

Keputusasaan benar – benar menderaku. Dua kali aku mengajukan judul materi skripsiku semuanya ditolak,tak satupun di ACC.Aku berfikir kalau dosen pembimbing ingin mengerjaiku,tapi aku selalu beristighfar karna itukan sebagian dari su’udzon.

Sore ini sepulang dari kampus,aku ada ada janji dengan ustadzah Lia,guru ngajiku.Kata beliau ada sesuatu yang ingin di berikan padaku.

“Ini ukh ! ana rasa sudah saatnya. Semoga saja anti bisa mempertimbangkannya dengan matang,karna ana yakin saat ini anti pasti sudah siap”,ucap beliau sembari menyodorkan amplop putih padaku.

“Apa ini ustadzah?”tanyaku tak mengerti

“Biodata ikhwan yang ingin berta’aruf dengan anti.Anti bisa membukanya setelah sampai di kos anti” kalimat terakhir ustadzah Lia padaku.




Malam ini aku tak bisa memejamkan mata,amplop pemberian ustadzah Lia tadi sore masih utuh tergletak di meja tulisku,belum tersentuh sama sekali.

Kulirik amplop itu,ku hela nafasku dalam – dalam. Akhirnya kusentuh juga amplop itu dan ku buka, tampak foto ikhwan putih manis berjenggot tipis,mahasiswa pascasarjana ITB jurusan informatika.Nama ikhwan itu Muhammad Walid Ramadhan, dari prestasi yang dia capai sepertinya dia ikhwan yang cukup bergengsi di kalangannya.Hm...,tapi hatiku kenapa seakan mati! Tak ada minatku sama sekali dengan ikhwan itu.Rabbi..... apa yang terjadi denganku??aku tak mengerti.Kutanyakan semua itu pada mbak Fika,teman sekamarku.Keheningan malam menemani kegalaunku bersama mbak Fika.

“Keikhlasan hatimu dek....yang perlu kamu siapkan untuk meluruskan niat ini.Tanpa keikhlasan tak akan tercipta niat yang lurus dan suci”.

“Tapi,guru ngaji nggak berhak menodongku kan mbak??dengan menyodorkan biodata ikhwan secara tiba – tiba tanpa mengerti kegalauan hatiku”

“Tentu saja tidak dek!,kamu punya hak untuk menyampaikan ketidak sregkan hati kamu pada guru ngaji kamu.Karna biodata dan ta’aruf itu bukan final semuanya”

“Mbak...!!apakah gelar ikhwan,kegiatan ngaji,dakwah dan bekerja itu cukup untuk dijadikan patokan untuk berta’aruf dan mengkhitbah akhwat??Tidak adakah patokan kesamaan visi,idealisme,orientasi dan karakter diantara keduanya??”keluhku.

“Semua manusia itu tak sempurna.Maka dari itu Allah berfirman bahwa menciptakan makhlukNya berpasang – pasang agar dapat saling mengasihi,saling melengkapi,dan saling menutupi kekurangannya. Dan itulah salah satu tujuan sebuah pernikahan dek!

Agar kita belajar untuk mencintai,mempercayai dan saling memahami.”jawab mbak Fika dengan sabar.

Akupun mengerti bahwa kata hatiku harus berkata apa besok jika di tanya oleh ustadzah Lia.


bersambung.......to part 2

In my room......

Rabbi my heart now still broken.

Help me please ALLAH......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar